Halo semua, gimana kabarnya?

Di blog aku kali ini, aku mau review Emina CREAMATTE!. Jadi ini adalah produk liquid lipstick-nya Emina yang hasilnya matte. Harganya cukup terjangkau lho, yaitu di bawah IDR 50.000. Aku sendiri lupa pas aku beli harganya berapa, tetapi pas aku cek di Lazada semua harganya di bawah IDR 50.000. Terjangkau banget kan?


Packaging Emina

Packaging Emina

Nah, di kemasannya sendiri Emina mengatakan bahwa

"Emina CREAMATTE! Lip cream dengan matte finish, mengandung Vitamin E yang melembabkan."

Jadi klaim produk ini di kemasannya sih itu aja. Hasilnya matte dan mengandung vitamin E yang melembabkan. Aku memutuskan untuk membeli shade 03 Mauvelous karena warnanya cukup menarik. Awalnya aku mau beli yang nude, tapi pas aku coba, warna shade-nya sama banget sama SASC Antoinette (baca review-nya di sini) yang aku sudah punya.

Lip cream ini dikemas dalam kotak seukuran lip cream-nya, yang juga berwarna mauve. Isinya 5,5 gr. memang tidak begitu banyak dibandingkan dengan lip cream lainnya yang bisa sampai 8 ml. Untuk alat pemuasnya sendiri cukup bagus, aku tidak memiliki masalah dengan alat pemuasnya. Tekstur lip cream ini cenderung creamy (sesuai dengan namanya) dan pigmented banget. Dan inilah shade 03 Mauvelous di tangan dan bibirku.

Emina CREAMATTE! 03 Mauvelous di tanganku.

My bare lips.

Bibirku dengan Emina CREAMATTE! 03 Mauvelous (edisi senyum)

Bibirku dengan Emina CREAMATTE! 03 Mauvelous (edisi flat)

Setelah aku pakai di bibirku, ternyata warnanya mauve yang lebih ngepink gitu. Termasuk golongan warna yang agak terang sih menurutku sendiri, agak di luar zona nyaman aku yang biasanya pakai lipstick dengan warna nude atau tidak terlalu terang.

Sekali pakai, langsung pigmented banget jadi tidak perlu dibuild lagi, karena sudah meng-cover seluruh bibirku. Tapi buildable juga kok, jadi kamu mau sekali atau dua kali oles pun tidak apa-apa, tidak akan merusak tekstur lip cream-nya. Namun sekali saja sudah cukup. Lip cream ini juga hasilnya matte banget dan kissproof. Karena hasilnya matte banget, kalau bibir kita lagi gak senyum, kerutannya jadi kelihatan banget sih. Mungkin beberapa dari kalian ada yang mempertimbangkan hal ini banget. Buatku sendiri ini bukan menjadi masalah.

Di klaim produk ini, Emina mengatakan kalau lip cream-nya mengandung vitamin E yang melembabkan bibir kita. Honestly, aku sendiri kurang begitu merasakannya ya. Ketika menggunakan lip cream ini, bibirku tetap terasa kering. Kekurangannya lagi menurutku, lip cream ini bukan tipikal lip cream yang ringan. Kalau beberapa liquid lipstick atau lip cream banyak yang memberikan gimmick kalau produknya ringan digunakan "seperti tidak menggunakan lip product apapun", nah aku tidak merasakannya di produk ini. Tetapi ini juga bukan masalah besar, karena Emina juga tidak mengklaim hal tersebut.

Aku melakukan ujian yang cukup berat untuk CREAMATTE! Emina kali ini, yaitu aku menggunakan lip cream ini untuk makan mie ayam (yang kita tau mie ayam itu cukup oily ya) untuk mengetahui ketahanan dari lip cream ini. Dan hasilnya di bibirku setelah aku makan mie ayam adalah seperti ini.

Bibirku setelah makan mie ayam

Yup, hasilnya lip cream yang ada di bagian tengah bibirku sudah pudar nih. Berarti lip cream ini bukan lip cream edisi kondangan juga ya, yang aman kena makanan apapun. Namun, kabar baiknya setelah aku retouch, hasilnya kayak awal lagi kok. Jadi bisa banget di-retouch. Apalagi produknya kecil, yang mungkin memang diperuntukan lip cream on the go gitu ya.

After retouch!

Kesimpulannya dari Emina CREAMATTE! ini adalah

Kelebihannya adalah affordable banget, mudah ditemukan di mana-mana, packaging-nya oke, ukurannya pas banget (tidak begitu besar dan jadi mudah dibawa ke mana-mana), pigmented, matte, buildable, bisa banget di-retouch.

Kekurangannya adalah agak kering menurutku, typical lip cream yang akan menunjukkan garis-garis bibir kamu (better lip scrub dulu sebelum pake lip cream ini), warna mauve-nya terlalu terang buat aku (not my comfort zone, tapi bisa aja ini jadi kelebihan buat kalian), ketahanannya biasa aja (tapi bisa di-retouch sih).

Aku pribadi suka dan puas dengan lip cream ini, karena harganya affordable dan kekurangannya pun masih bisa aku tolerir. Lip cream ini termasuk produk lokal yang oke dan must try banget buat kalian yang memang demen pakai lip cream / liquid lipstick matte.

Nah, buat kalian yang merasa foto aku kurang jelas atau gimana, bisa banget kalian coba cek video aku di Youtube tentang review Emina Creamatte ini, ya.


Thank you buat kalian yang sudah ngeluangin waktu untuk baca blog aku. Hasil produk make up bisa berbeda-beda di setiap orang ya, jadi be free untuk coba produk yang aku review juga share pendapat kalian. Sampai ketemu di postingan blog aku yang selanjutnya.

With Love,

Novia


Halo semua, apa kabar?

Aku dan Even Steven Whipped Foundie

Di postingan blog aku kali ini, aku akan share mengenai review Even Steven Whipped Foundation. Foundation yang baru dirilis The Balm pada 2017 lalu. Setelah ada berbagai macam foundation yang berbentuk liqiuid, padat, cushion, The Balm mulai meluncurkan foundation yang berbentuk whipped. Sebenarnya ada beberapa brand make up lain yang juga mengeluarkan whipped, seperti Revlon, Maybelline, juga Lakme. Aku penasaran juga dengan kualitas whipped foundie mereka. But, let's try The Balm first.

Klaim dari The Balm mengenai whipped foundie ini adalah
"With a light, airy, soufflé-like texture, you’ve got a foundation that’s truly whipped! A perfect complexion is par for the course with this ultra-pigmented formula … just remember, a little goes a long way with Even Steven! Available in eight long-lasting shades with a natural matte finish, Even Steven will have you tee’d up and ready to go in no time." (source: thebalm.com)

Jadi, menurut website The Balm, whipped foundie ini memiliki tekstur yang sangat ringan namun tetap pigmented banget. Sedikit saja foundie ini dapat mengcover seluruh wajah kamu. Ada 8 shade dengan hasil natural matte. Whipped foundie ini disarankan untuk kamu yang butuh make up buru-buru.

Sebelum membahas realita dari klaim di atas. Aku mau info harga Even Steven whipped foundie ini adalah IDR 400.000 (beli di Sogo) dengan isi hanya 12 ml (standar foundie biasa 30 ml). Pas aku mau beli, SPG-nya uda yakinin aku banget cuma butuh sedikit foundie Even Steven untuk cover seluruh wajah. Jadi aku tetap beli foundie ini akhirnya, lebih karena penasaran dengan tekstur dan kualitasnya.

Tekstur dari whipped foundie ini lebih kayak cream yang cukup padat menurutku. Tidak selembut whipped cream in real life, tapi kayak cream yang bisa kamu colek.
Karena isinya juga sedikit, aku mengambil sedikit whipped foundie dengan jari untuk selanjutnya aku taruh di wajah. Setelah itu baru aku blend di wajah dengan sponge yang sudah aku basahi dengan setting spray. Foundie ini matte banget, jadi aku langsung blend dengan sponge sebelum dia kering dan malah jadi susah diblend. Aku setuju dengan klaim mereka, yang mana hanya butuh sedikit untuk cover seluruh bagian wajah. Satu colekan jari telunjuk bisa untuk mengcover pipi, hidung, dan dagu. Wow!

Sebelum menggunakan Even Steven Whipped Foundie

Setelah menggunakan Even Steven Whipped Foundie

Hasilnya matte banget dan coverage-nya oke dengan jumlah produk yang sedikit. Pas aku beli, SPG-nya juga saranin untuk pilih shade yang lebih gelap dari wajah, katena ketika foundie sudah set di wajah, hasilnya akan lebih terang dibandingkan ketika di awal baru diblend.
Yang ini juga aku setuju banget. Ketika foundie ini set di wajah, warnanya jadi lebih terang dari sebelumnya. Jadi hati-hati ketika kamu sedang memilih shade dari Even Steven Whipped Foundie ini ya. Better pilih shade yang sedikit lebih gelap dari shade yang kamu inginkan.

Foundie ini ringan banget di kulit meski matte dan coverage-nya oke. Aku mencoba foundie ini dengan dan tanpa primer dari Benefit The Porefessional, hasilnya pun sama saja. Foundie ini meminimalisir tampilan pori-pori di wajahku.

Untuk ketahanan, sepertinya so so aja. Setelah 4 jam, noda hitam di daguku yang sebelumnya ter-cover sempurna. Pori-pori di sekitar hidung juga semakin terlihat. Hidungku sendiri sudah mulai berminyak banget meski aku hanya beraktivitas ringan di ruangan ber-AC. Di hidung juga tampak patchy. Bagusnya di bagian pipi masih matte dan gak transfer sama sekali.

Aku mencoba untuk touch up dengan bedak tabur tapi hasilnya untuk bagian hidungku malah makin terlihat patchy. Untuk bagian lain masih oke untuk di touch up dengan bedak tabur.

Kesimpulannya dari foundation ini adalah
Kelebihannya adalah bukan typical foundie yang boros karena sedikit sudah bisa mengcover wajah, matte, coverage-nya medium to full aku cukup puas dengan coverage-nya, ringan di wajah, karena kecil jadi mudah dibawa ke mana-mana.

Kekurangannya adalah kecil banget foundie-nya agak kurang worth it menurutku (peace), entah mengapa terlihat patchy di hidungku, di area t zone dalam waktu 5 jam sudah mulai muncul minyak, di bagian patchy-nya tidak bisa di touch up dengan bedak tabur.

Untuk lebih jelasnya, kamu juga bisa lihat video aku di sini ya.


Nah, kalau kalian sendiri apakah sudah pernah mencoba whipped atau mousse foundation? Kalau sudah, bagaimana menurut kamu? Jadi move on ke jenis foundation ini atau tetap pada foundie lama kamu?

Terima kasih sudah meluangkan waktu kalian untuk membaca blog aku ya.
Sampai bertemu di blog aku selanjutnya,

With love,

Novia
Aloha!


Aku dan The Body Shop Tea Tree Skin Clearing Facial Wash

Di blog aku kali ini, aku mau review Tea Tree Skin Clearing Facial Wash dari The Body Shop. Ini termasuk produk unggulannya The Body Shop dari rangkaian tea tree. Aku sendiri tertarik mencoba facial wash ini karena waktu itu wajahku sedang berjerawat parah. Kondisi wajahku waktu itu juga jerawatnya bandel banget, yang pas hilang terus tumbuh lagi di area lain.

Jadi aku memutuskan untuk mencoba facial wash ini karena facial wash merupakan treatment yang tidak terlalu keras untuk kulit. Aku sendiri sebenarnya sudah punya obat jerawat andalanku, tetapi yang kubutuhkan lebih untuk mencegah jerawat muncul di wajahku.


The Body Shop Tea Tree Skin Clearing Facial Wash

TBS Tea Tree Skin Clearing Facial Wash ini seharga IDR 129.900, bisa kamu beli di outlet TBS atau juga di website TBS Indonesia. Isinya 250 ml dan itu banyak banget, aku udah pakai mau setahun dan masih ada aja isinya. 

Cairan facial wash ini berwarna hijau bening dengan bau khas green tea atau chemical gitu. Aku pernah cobain Verile Facial Wash yang juga mengandung Tea Tree dan baunya tidak jauh beda. Cairannya pun berwarna hijau bening, cenderung encer dan bisa mengalir di tangan kamu.

Tekstur TBS Tea Tree Skin Clearing Facial Wash

TBS Tea Tree Skin Clearing Facial Wash ini juga bukan typical sabun muka yang berbusa. Justru sedikit banget busanya. Tetapi buatku, setelah menggunakan produk ini, wajahku tetap terasa bersih dan minyak pun bekurang. Meski minyaknya di wajahku berkurang, wajahku tidak terasa kering atau terlalu kesat. Ini hal yang aku suka.

Untuk masalah jerawat, facial wash ini cukup ampuh mencegah timbulnya jerawat di wajahku. Tetapi tidak untuk mengobat jerawat. Aku akui setelah menggunakan facial wash ini, masalah jerawatku yang hilang muncul sudah mulai berkurang. Memang kadang masih ada jerawat, tetapi jarang sekali.

Kesimpulannya dari TBS Tea Tree Skin Clearing Facial Wash ini adalah 

Kelebihannya: banyak banget, bisa kamu gunakan sampai setahun, cukup ampuh untuk mencegah jerawat di wajah, no perfume, tidak perih di mata, ampuh buat bersihin minyak di wajah tapi tidak membuat wajah menjadi kering juga.

Kekurangannya: tidak terlalu berbusa (ini bisa jadi kekurangan atau kelebihan tergantung masing-masing orang :) ), bau chemical tea tree-nya agak menyengat tapi buat aku sendiri tidak menjadi masalah, size-nya cukup besar kurang efektif kalau dibawa untuk traveling (harus beli botol kecil dan refill sendiri).

Kalau kamu adakah yang pernah mencoba facial wash ini? Kalau ada dan punya pendapat berbeda jangan ragu untuk cantumkan di comment box mengenai pendapat kamu ya. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca blog aku, dan sampai jumpa di blog aku selanjutnya :)

With Love,

Novia
Halo semua!

Hari ini aku mau review L'Oreal Pure Clay Mask yang belum lama ini rilis di pasaran Indonesia.

L'Oreal menyediakan 3 varian masker ini.
1. PURIFY (North American Montmorillonite Clay + Japanese Active Charcoal)
Membersihkan hingga ke lapisan pori
2. PORE REFINING (Moroccan Lava Clay + Rosemary Extract)
Menghaluskan tampilan pori-pori dan mengurangi minyak berlebih
3. ILLUMINATING (British Kaolin Clay + Lemongrass Extract)
Mencerahkan kulit yang kusam, mengangkat sel kulit mati

(Source: Youtube L'Oreal)

Pilihanku jatuh pada L'Oreal Pure Clay Mask Pore Refining, karena aku sendiri memiliki masalah pori-pori yang besar juga wajahku berminyak.

Menurut tulisan yang ada di packaging produk ini. Masker ini mengandung Moroccan Lava Clay yang diekstrak di Morocco, bahan ini mampu membantu kulit terasa halus dan mengangkat sel kulit mati pada permukaan wajah yang menyumbat pori. Diperkaya dengan ekstrak rosemary, formulanya membantu membersihkan kulit secara menyeluruh. Teksturnya yang lembut mudah untuk dibilas.

Klaim dari L'Oreal Pure Clay Mask: Pore Refining dari packaging-nya.
1. Setelah penggunaan pertama: kulit wajah terasa bersih menyeluruh, pori-pori terlihat kecil. Bersih dari debu.
2. Hari demi hari: Wajah terasa lembut, halus, dan tidak berminyak.

Penggunaan: Aplikasikan masker pada kulit wajah yang bersih, diamkan selama 10 menit sebelum dibersihkan dengan air hangat. Gunakan 2-3 kali dalam seminggu untuk hasil yang optimal. Hindari kontak dengan mata dan bibir. Bila terkena mata, bilas dengan air.

Harga dari masker ini adalah IDR 150.000 di Lazada. Cukup terjangkau karena bisa digunakan sampai 10x. Packaging-nya juga tampak mewah dengan plastik tebal dan tutup yang bagus.

Untuk yang Pore Refining, di foto/iklannya sering dimunculkan warna hijau. Tetapi ketika dilihat di produknya agak berwarna abu-abu. Tekstur masker ini halus banget seperti krim yang agak heavy dan lengket, ada butiran scrub-nya tapi halus banget. Baunya ada bau belerang tetapi tidak menyengat.


Wajahku dengan L'Oreal Pure Clay Mask: Pore Refining

Ketika digunakan masker ini terasa aman di kulitku, tidak ada rasa panas, baunya pun tidak mengganggu karena memang tidak menyengat sama sekali. Setelah dioleskan di wajah ternyata baru terlihat warna hijau dari masker ini. Aku mendiamkannya selama 10 menit sampai masker ini kering di wajahku.

Setelah masker ini mulai mengering, selayaknya masker pada umumya wajahku terasa seperti tertarik-tarik dan kencang. Namun, pas aku lihat cermin, terdapat bolong-bolong kecil di bagian pinggir hidung dan hidungku, seolah-olah pori-poriku tercetak di masker tersebut. Entah mengapa aku merasa agak terganggu dengan pemandangan ini.

Kemudian setelah 10 menit, aku bilas wajahku dengan air hangat. Step pertama pembilasan, aku membasahi wajahku kemudian aku memijat wajahku dengan sisa masker yang tersisa dengan tujuan untuk mengeluarkan kotoran lain yang ada di wajahku. Namun, karena tekstur masker ini halus dan creamy banget, aku agak kesulitan untuk melakukan hal tadi. Kemudian ada beberapa bagian wajahku yang sulit dibersihkan, yaitu di bagian atas bibir. Memang bukan susah banget, tapi butuh effort untuk menggosok-gosok bagian wajah tersebut.

Hasil akhirnya wajahku terasa bersih, pori-pori pun terlihat mengecil. Namun, masker ini sepertinya memang ditujukan untuk tipe kulit wajah yang super oily, karena di wajahku yang tergolong oily, masker ini justru meninggalkan jejak patchy di hidung aku. Ya, di bagian hidungku ada kulit mengelupas yang cukup terlihat. Jadi buat kalian yang kulit wajahnya kering, saran aku kamu bisa cobain varian lain dari L'Oreal Pure Clay Mask ini. Tekstur wajahku pun terasa sangat kesat.

Jadi kesimpulannya adalah

Kelebihan: halus, baunya tidak menyengat, affordable, bisa membersihkan wajah, mampu megecilkan tampilan pori, dan ampuh buat menghilangkan minyak pada wajah.
Kekurangan: terlalu creamy jadi agak susah kalau mau me-massage wajah, teksturnya juga membuat masker ini sedikit butuh effort untuk membersihkannya, masker ini bisa membersihkan minyak di wajah kamu, tetapi di kulitku bahkan sampai ada efek kulit mengelupas.

Aku juga sudah membuat video mengenai review L'Oreal Pure Clay Mask: Pore Refining. Tonton yuk jadi kamu bisa lebih tahu mengenai tekstur masker, kondisi wajahku yang kering dan ada kulit mengelupasnya, juga hal lainnya.


Terima kasih telah membaca blog aku, ya. Jangan lupa juga untuk tonton, like, dan subscribe video aku di Youtube ya. Sampai bertemu di ceritaku selanjutnya.

With Love,

Novia.


Halo semua, gimana kabarnya?

Hari ini aku mau review salah satu produk Innisfree. Sekadar mau sharing, Innisfree ini merupakan brand Korea Selatan yang oke banget. Aku suka banget nontonin short movie atau video-videonya di Youtube yang back to nature banget. Artis Korea Selatan yang digandeng pun selalu artis ternama yang tentunya good looking dan jadi point plus buat video-video mereka. Salut banget sama brand ini, harusnya bisa dijadikan referensi untuk meningkatkan image brand-brand Indonesia.

Produk yang akan aku review adalah Innisfree Green Tea Seed Serum. 
Sebenarnya aku dapetin produk ini berupa sample, sebagai welcome gift pada saat mendaftarkan diri sebagai member dari Innisfree. Sample produk ini dipack dengan 2 sample produk krim juga yang aku lupa namanya. Isi sample-nya sebesar 5 ml dan packaging-nya berupa tube dengan pump yang praktis banget menurut aku. Dibandingkan dengan packaging sachet yang terkesan sekali pakai saja.

Untuk harga full size-nya 80 ml di store Innisfree adalah IDR 340.000.

Ini adalah penampakan sample Innisfree The Green Tea Seed Serum

Berikut ini adalah keterangan mengenai Innisfree The Green Tea Seed Serum yang aku dapatkan dari website Innisfree.

Serum kaya nutrisi dari perasan daun dan biji teh hijau Jeju untuk kulit wajah yang terjaga kelembapannya dari dalam. 

1. Energi green tea memberikan kelembapan dan nutrisi mendalam dengan 100% perasaan green tea segar. 
Kaya akan mineral dan amino acids dari 100% ekstrak perasan daun green tea Jeju yang memberikan kelembapan pada kulit 

2. Teknologi moisturizer ganda dari perasan green tea segar dan green tea seed oil 
Green tea seed oil yang memberikan kelembapan mendalam bagi kulit juga membentuk lapisan pelembap ganda yang menjaga dan melindungi kadar kelembapan kulit yang lebih tahan lama. 

3. Serum tahap pertama setelah membersihkan wajah untuk menjaga kelembapan kulit.
Serum tahap pertama setelah mencuci muka untuk mengembalikan kelembapan kulit yang hilang akibat penggunaan cleansing foam.

Cara penggunaan 
Aplikasikan produk ke seluruh wajah dan leher dengan pijatan lembut untuk membantu proses penyerapan.

Maaf banget sebelumnya, aku lupa mengambil foto tekstur dari serum ini, tapi bentuknya itu gel bening. Cuma perlu satu pump untuk meng-cover seluruh wajah dan leher. Yang aku suka adalah baunya yang fresh banget dan wangi bebungaan gitu. Terus, karena berbentuk gel, serum ini langsung menyerap di kulit. Favorit banget!

Kalau dilihat dari fungsinya yang overall untuk melembapkan kulit wajah, di wajahku yang berminyak, serum ini tidak membuat kulit wajahku jadi lebih oily. Jadi tentunya serum ini aman untuk kamu yang kulitnya berminyak. Apalagi biasanya facial foam untuk kulit berminyak akan membuat kulit wajah kamu terasa kering dan keset, nah kamu bisa menggunakan serum ini untuk kembali menghidrasi wajah kamu sebelum menggunakan make up.

Jadi kesimpulannya.

Kelebihan: baunya enak banget, tidak boros produk untuk wajahku yang cukup lebar (satu pump dapat mengcover wajah dan leher, cepat menyerap ke wajah, cukup menghidrasi tapi tidak sampai membuat wajah menjadi oily.
Kekurangan: belum menemukan kekurangannya sih.

Sekian dulu blog aku hari ini, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca blog aku ya. Sampai bertemu lagi di cerita aku selanjutnya :)

With love,

Novia.


Halo semua, selamat Natal 2017 untuk kalian yang merayakan ya.

Hari ini aku mau review Matte Clay Foundation dari The Body Shop. Produk ini merupakan foundation keluaran baru dari TBS di 2017 ini. Rupanya TBS cukup mengikuti tren foundation matte di pasaran dengan mengeluarkan foundie ini, ya. Harganya pun terjangkau jika dibandingkan dengan produk TBS lainnya, yaitu IDR 169.000 dengan ukuran 30 ml.

Klaim dari foundie ini adalah full coverage, matte finish, ringan di kulit, anti air dan keringat, juga no shine 24 jam. Oke banget ya klaimnya. Aku beli foundation ini yang shade nomor 034 Japanese Maple.

Pengalaman aku menggunakan foundie ini adalah foundie ini sebenarnya tidak high coverage menurutku, tetapi lebih ke medium coverage. Foundie ini bisa dibilang kurang berhasil untuk menutupi noda hitam juga urat-urat di pipiku. Kalau mau di-build sebenarnya bisa, tapi 2 layer tidak cukup untuk menutupi noda hitam, kamu akan tetap butuh concealer untuk membuat wajah kamu lebih flawless.

Untuk hasilnya sendiri matte dan ringan banget di wajah, aku suka karena foundation ini nempel banget di kulit. Tetapi di area hidung aku, tepatnya di sela antara cuping hidung dan pipi, itu kelihatan agak patchy di sana. Jadi kering banget bagian tersebut. Padahal, biasanya hidung aku tuh super berminyak banget lho (kulit wajahku tipe oily). Setelah aku tambahkan make up, seperti kontur dan loose powder pun, bagian hidungku masih terlihat patchy.

Aku tes foundie ini di waktu sore hari dan cuacanya juga adem. Pada waktu tersebut mostly aku juga berada di ruangan ber-AC. Aktivitas yang dilakukan pun bukan aktivitas yang berat. Tetapi setelah menggunakan foundie ini selama 5 setengah jam, wajahku sudah kelihatan berminyak, terutama di daerah hidung dan sekitarnya. Agak cakey di daerah yang berminyak tadi, juga di daerah dagu aku. Tetapi di bagian pipi aku, foundie ini masih oke banget dan matte.

Kesimpulannya, aku agak kurang puas sebenarnya dengan foundie ini.

Kelebihan: affordable (untuk produk TBS), matte, ringan di kulit, packaging-nya oke.
Kekurangan: patchy dan cakey setelah berjam-jam, juga agak berminyak setelah berjam-jam, medium coverage.

Sebenarnya aku tidak bergitu mempermasalahkan soal minyaknya, karena wajar banget setelah 5 jam foundie yang ada di wajah kita jadi agak berminyak. Hanya saja, hal ini berarti kurang sesuai dengan klaim sebelumnya, yang menjanjikan no shine selama 24 jam.

Bukan berarti aku gak akan pakai foundie ini lagi kok. Aku tentunya akan gunakan foundie ini lagi untuk acara kondangan atau night events lain seperti dinner, dsb. yang tidak memerlukan waktu lama dan aktivitas berat. Hasil penggunaan make up pun bisa berbeda-beda, buat kamu yang pernah cobain foundie ini coba yuk kasih pendapat kamu di comment box di bawah ini :)

Maaf banget ya, di blog aku kali ini aku tidak menyertakan gambar seperti biasanya. Tetapi aku sudah menyiapkan video yang lengkap dan detil mengenai foundie ini. Mulai dari teksturnya, before-after wajahku dengan foundie, juga penampakan wajahku setelah 5 jam lebih menggunakan foundie ini. Jangan lupa ditonton di sini ya.


Sekian dulu blog aku kali ini dan sampai jumpa di blog aku selanjutnya :)

With love,

Novia
Hai semua!
Di blog aku kali ini, aku mau share salah satu beauty hack yang paling aku andalkan. Beauty hack kali ini adalah mengubah eye shadow favorit kamu menjadi lipstick.

Beauty hack ini bisa kamu gunakan kalau kamu ingin membuat make up karakter yang membutuhkan lipstick hitam, putih, hijau, ungu, dan warna lain yang jarang ada dalam bentuk lipstick. Kalau ada pun sebenarnya agak sayang membelinya, karena pasti akan jarang kita gunakan.

Peralatan yang kita butuhkan adalah pelembab bibir bisa berupa lip balm atau petroleum jelly dan eyeshadow favorit kamu.

Caranya adalah.
1. Ambil sedikit pelembab bibir dengan tangan atau lip brush dan oleskan di belakang telapak tangan kamu.
2. Ambil warna eyeshadow favorit kamu (bisa dengan tangan atau lipbrush). Ambil agak banyakan ya.
3. Campurkan dengan pelembab bibir yang ada di belakang tangan kamu tadi.
4. Jika dirasa belum terlalu padat atau pigmentasinya belum oke, kamu bisa tambahkan eyeshadow lagi di campuran tadi.
5. Lipstick dari eyeshadow kamu sudah siap digunakan :)

Untuk cara lebih jelasnya, kalian bisa lihat di video aku berikut ini ya.



Terima kasih sudah membaca blog aku hari ini. Juga sudah menonton video aku, jangan lupa untuk like dan subscribe channel youtube aku, ya. Sampai jumpa di blog aku selanjutnya.

With love,


Novia
Halo semua, gimana kabarnya?

Di postingan blog aku kali ini, aku mau review The Falsies Push Up Angel Mascara dari Maybelline. Aku tertarik dengan maskara ini, karena bentuknya yang berbeda dari maskara pada umumnya. Kalau maskara biasanya alat pemuasnya berupa spoolie, kalau maskara ini berbentuk seperti sisir, hanya ada di satu sisi saja. Menurut BA dari Maybelline, bentuk tersebut dapat membuat efek bulu mata yang winged dan lebih dramatis. Aku juga tertarik dengan maskara ini karena aku pribadi suka maskara dengan spoolie yang kecil dibandingkan yang besar. Dengan spoolie kecil, aku bisa memastikan bulu mataku terkena maskara dari ujung dalam sampai ujung luar, tanpa takut terkena bagian wajah lain. Sama seperti perempuan lain, maskara termasuk tahapan make up terakhir, kalau sampai mengotori daerah wajah yang sudah tertutup foundie/concealer/bedak tabur atau kelopak mata yang sudah tertutup eye shadow yang rapi kan jadi repot. Setuju gak? Hehe.

Klaim dari Maybelline mengenai maskara ini adalah
1. Maskara push up waterproof & smudgeproof.
2. Push up wing brush - menebalkan, mengangkat, dan melebarkan bulu mata ke sisi samping untuk efek wing.
3. Styling Formula – untuk efek bulu mata palsu lebih tahan lama.

Satu lagi alasan aku memilih maskara ini adalah karena klaim-nya yang smudgeproof. Aku dulu sempat menggunakan Volum' Express The Magnum Mascara dari Maybelline juga yang ternyata maskara ini cuma waterproof saja, tidak smudgeproof. Hasilnya adalah maskara ini sukses memberikan bayangan hitam di bawah mataku setelah menggunakannya selama 3 jam. Kulit wajahku super oily, jadi aku lebih prefer maskara smudgeproof dan waterproof dibandingkan dengan yang waterproof saja.

Dan inilah hasil before dan after bulu mataku sebelum dan setelah menggunakan The Falsies Push Up Angel Mascara.

Bulu mataku sebelum dan sesudah menggunakan Falsies Push Up Angel Mascara

Sekarang aku mau review dulu dari pengalaman aku menggunakan maskara ini. Aku suka dengan spoolie-nya yang sangat kecil, tapi ternyata spoolie-nya agak kepanjangan buat mata aku, ditambah dengan bentuk spoolie-nya yang agak melengkung, ternyata jadi agak susah juga untuk digunakan. Jadi pas pertama kali pake ini emang agak mengotori bagian ujung luar kelopak mataku karena spoolie-nya terlalu panjang untuk mataku yang kecil.

Terus dari hasilnya aku suka banget, karena bisa membuat bulu mataku yang pendek dan tipis menjadi lebih tebal dan panjang. Meski begitu, maskara ini kurang bisa membuat efek volume di bulu mataku.

Yang favorit lagi dari mascara ini adalah smudgeproof banget. Aku sudah pakai berjam-jam dan mascara ini tidak membuat bayangan hitam di kelopak bawah mataku.

Sebelum dan setelah 5 jam

Ini adalah foto sebelum dan sesudah 5 jam menggunakan menggunakan mascara The Falsies Push Up Angel dari Maybelline. Kebukti banget kalo maskara ini smudgeproof dan aku puas :)

Kesimpulannya dari maskara ini adalah

Kelebihan: ampuh banget buat panjangin bulu mata kamu, cocok juga buat kamu yang anti dengan maskara ber-spoolie besar, smudgeproof-nya asli banget pas buat kamu yang area matanya berminyak.

Kekurangan: spoolie-nya agak kepanjangan buat mata yang kecil (kayak aku), tidak menghasilkan efek volume.

Kalau kamu mau lihat bentuk maskara-nya dengan lebih jelas juga review yang lebih mendalam, tonton video Youtube aku di sini ya. Jangan lupa juga untuk like dan subscribe ke channel aku, ya.


Sampai bertemu di blog aku selanjutnya yaa :)

With love,

Novia



Halo semua!

Hari ini aku mau review salah satu produk unggulannya The Body Shop, Himalayan Charcoal Purifying Glow Mask. Masker ini adalah masker lumpur yang sering banget dibilang sebagai dupe-nya Glam Glow. Masker ini seharga IDR 329.000 dengan isi 75 ml. Kandungannya antara lain bamboo charcoal dari kaki bukit Himalaya juga ada tea tree oil-nya lho. Klaimnya produk ini dapat membuat wajah menjadi lebih halus serta menghilangkan kotoran dan minyak berlebih pada wajah. Disarankan menggunakan masker ini 2-3x dalam seminggu. Diamkan 5-10 menit kemudian bilas dengan air hangat.


The Body Shop Himalayan Charcoal Purifying Glow Mask

Pas dibuka tube maskernya, baunya tuh lumayan nyengat kayak belerang gitu. Teksturnya seperti masker lumpur pada umumnya yang kental dan cenderung kasar.

Sebelum menggunakan masker ini, aku mencuci muka dulu. Dengan begitu, masker ini bisa berfungsi maksimal dalam mengangkat minyak dan kotoran yang tidak bisa dibersihkan oleh sabun wajahku. Kemudian aku aplikasikan masker ini di wajahku.

Ketika pertama kali mengoleskan masker ini di wajah, rasanya tuh agak panas di kulit. Aku sempat insecure pada awalnya, karena aku pernah ketipu beli sheet mask palsu Korea di online shop dan pas dipake tuh rasanya panas dikulit. Tapi karena ini aku belinya di counter The Body Shop-nya langsung, aku kembali percaya diri untuk mengoleskan masker ini di seluruh wajahku.

Karena rasanya yang panas dan baunya yang cukup menyengat, lebih baik dihindari di daerah mata dan bibir ya. Sebenarnya hal ini juga sudah diinfokan sebelumnya di kemasan produk TBS ini. Setelah wajah kita sudah teroleskan masker TBS ini, tinggal ditunggu 5-10 menit sampai masker ini kering.

Oh ya aku sudah lumayan lama menggunakan masker ini sebenarnya. Memang pas pertama kali pake rasanya tuh panas dan agak pedas di kulit. Tetapi kalau digunakan secara rutin, aku sudah tidak merasakan efek samping itu lagi lho. Jadi buat kamu yang mau coba masker ini, jangan takut pas pertama kali berasa panas di kulit ya.

Setelah maskernya sudah kering semua di wajahku, aku siapkan air hangat, dan siap membasuh wajahku. Aku tidak langsung menghilangkan keseluruhan maskernya. Aku mengusapkan air hangat di wajahku, kemudian aku memijat wajahku yang masih terlumuri masker dan semi basah dengan gerakan memutar. Pijatan memutar ini dapat mendorong sisa-sisa masker di wajah untuk mengangkat kotoran lain yang sulit dibersihkan, seperti komedo, white head, dsb. Ketika memijat, kotoran masker pun akan berjatuhan, hal ini membuat kita lebih mudah membersihkan wajah kita dari masker tersebut.

Setelah selesai memijat perlahan seluruh bagian wajah, saatnya membersihkan sisa-sisa masker dengan air hangat lagi. Biasanya, aku tidak berhenti di fase sini saja. Ketika wajah sudah bersih dari sisa-sisa masker, aku kembali membasuh wajahku dengan air dingin untuk menutup pori-pori yang sebelumnya sudah terbuka akibat menggunakan masker dan air hangat. Setelah itu jangan lupa keringkan wajah dengan handuk yang lembut dan bersih, ya.

Efek pertama yang berasa banget adalah wajahku jadi lembut banget juga bebas minyak, karena jenis kulit wajahku tuh berminyak banget. Terus wajahku juga jadi terlihat lebih cerah, sepertinya masker ini sukses mengangkat kulit mati dan kekusaman di wajahku deh, which is aku suka banget. Setelah diperhatikan juga, pori-pori di sekitar hidungku yang biasanya agak besar, jadi kecilan lho. Tapi masker ini belum berhasil mengangkat komedo / black head di bagian hidungku. Kalau white head, lumayan ngangkat sih, karena di sekitar cuping hidungku banyak white head yang berupa jerawat kecil-kecil gitu. Dan setelah maskeran, jerawat-jerawat kecil a.k.a white head itu jadi hilang lho.

Overall aku suka banget sih sama masker ini.

Kelebihan: ampuh banget buat ngilangin minyak berlebih di wajah, wajah jadi lembut banget, cara menggunakannya gampang banget dibandingkan dengan masker bubuk yang harus diseduh, bisa untuk mengangkat white head, dan mudah dicarinya.

Kekurangan: bau dan panas pas pertama kali digunakan, belum bisa mengangkat komedo / black head.

Untuk mengetahui tekstur, cara penggunaan, dan review lebih jelasnya, aku sudah membuat blog ini versi videonya juga lho. Yuk tonton videonya di sini.


Jangan lupa like dan subsribe channelku di Youtube juga ya.
Thank you banget buat kalian yang sudah baca blog aku. Sampai bertemu lagi di blog aku selanjutnya.

With love,

Novia



Halo semua, apa kabar?

Aku mau lanjutin blog aku yang sebelumnya On Vacation to Bromo Malang Part 1 . Setelah diantar oleh driver Jeep sampai ke KFC Malang lagi, aku gak langsung balik ke hotel. Tapi langsung chao ke daerah Batu. Gila, ya padahal uda bau keringat dan rambut penuh pasir. Touch up touch up dikit di WC dan aku langsung order Grabcar ke Museum Angkut.

BTW, pas aku di Malang, Uber mobil & Grab car lagi panas banget sama angkutan konvensional di sana. Jadi susah banget cari Uber dan Grab padahal udah lumayan lama lho, dua angkutan online ini masuk Malang. Giliran dapet pun, salah satu dari penumpang disuruh duduk di depan, nemenin driver. Biar gak keliatan kalau itu Uber atau Grab. Ada juga yang menyiasati dengan bertukar mobil dengan driver lain, karena katanya suka banyak tukang angkot atau ojek yang pura-pura pesan Uber atau Grab. Terus pas Uber atau Grab-nya dateng, drivernya digebukin rame-rame. Kasian banget, ya. Tapi, taktik bertukar mobil itu agak bikin aku insecure juga sih, karena pas pulang dari Batu menuju hotel, driver Uber yang aku dapatkan bilang kalau dia pake taktik itu. Plat dan jenis mobil di aplikasi aku sama mobil yang dateng kan beda dong. Takut aja disalahgunakan pihak lain, dsb. Semoga deh angkutan konvensional di Malang sekarang sudah bisa menerima keberadaan Grab dan Uber. Biar lebih nyaman, karena buat wisatawan kayak aku yang awam banget sama Malang, sangat mengandalkan Uber dan Grab buat ke mana-mana.

Lanjut, jadi aku naik Grab ke Museum Angkut, lumayan jauh, tapi gak jauh-jauh banget. Sekitar pk. 16.00 aku sudah sampai di Museum Angkut. Harga tiket masuk Museum Angkut Rp70.000,00 per orang dewasa, kalau bawa kamera profesional dikenakan charge Rp30.000,00. Awalnya kami mau curi-curi tidak bayar charge kamera profesional, dengan alasan tidak membawanya tapi pas di lokasi akan kami keluarkan. Tetapi melihat di ruangan pertama masuk penjagaannya cukup ketat, jadi akhirnya kami membayar charge kamera profesional. Aku sendiri tidak tahu mengenai hukuman apabila ada yang diam-diam mengeluarkan kamera profesional tanpa membayar charge di awal dan ketahuan petugas.

Di ruangan pertama setelah kami membayar tiket masuk, terdapat ruangan khusus mobil antik, kereta kuda antik, intinya mengenai sejarah angkutan darat di dunia. 

Bersama mobil mewah antik zaman dulu

Aku dan kereta kuda zaman dulu

Kereta kuda yang lain

Lalu naik ke lantai dua mulai terdapat miniatur angkutan laut dan udara.

Kapal legendaris, tapi aku lupa namanya

Titanic

Detilnya complicated banget ya

BTW sebenarnya Museum Angkut ini kayak labirin, jadi kami seolah-olah dibawa keliling oleh arsitektur ruangan tersebut. Selayaknya IKEA kalau kamu pernah ke sana.

Setelah melihat-lihat sejarah angkutan laut dan udara, kami masuk ke area outdoor yang di setting ala ala pecinan. Di sana ada beberapa arsitektur khas China. Tetap ada angkutannya juga, angkutan nelayan pada saat membawa banyak ikan, gerobak, dsb. 

Konsepnya china town gitu.

Aku dan ikan

Typical orang Indonesia banget ya, naik sepeda tapi bawaannya banyak banget.

Selanjutnya kami masuk ke ruangan indoor lagi, di situ dipamerkan lebih banyak angkutan barang besar seperti gerobak, truk, dsb. Ada juga beberapa motor, mobil antik, dan pernak-pernik mobil seperti ban di sana. Oh ya, sebelum aku lupa, sebagian besar angkutan yang dipamerkan di sana tidak boleh disentuh lho. Jadi buat kamu yang berkunjung ke sana, taati aturan ini ya, biar pengunjung selanjutnya masih bisa menikmati pemandangan angkutan yang bagus.

Sejenis Fiar gitu ya

Kumpulan Sepeda dan Ban

Bannya Gede Banget!

Truck On Frame

Selepas dari ruangan indoor ini, kami diarahkan ke lokasi outdoor yang disetting ala ala Broadway. Ada mini teater yang menayangkan episode film Charlie Caplin, ada beberapa lukisan dan miniatur artis Holywood yang legendaris seperti Audrey Hepburn, ada juga beberapa icon perfilman Holywood. Settingannya instagramable banget, pas kalo kamu suka foto-foto. Sepanjang jalan outdoor ini juga banyak toko yang menjual oleh-oleh, makanan, minuman, dan es krim.

Salah satu spot yang memajang foto Audrey Hepburn

Teater ala ala Broadway

Mungkin film yang ditayangkan kurang jelas, tetapi teater sedang menayangkan film Charlie Caplin

 Salah satu spot yang instagramable

Sebenarnya aku sangat membatasi waktu jalan-jalan di Museum Angkut, karena kami mau lanjut ke Batu Night Spectacular maksimal pk. 19.00. Jadi setelah melewati daerah Broadway tadi, kami agak buru-buru untuk segera menyelesaikan perjalanan di Museum Angkut. Tapi sayang banget sih kami buru-buru, karena setelah melewati daerah outdoor Broadway, kami mulai ke lokasi indoor lagi dan settingan indoor--nya pun bagus banget. Ada wilayah yang dibuat seperti di Inggris, Prancis, Belanda, dsb. Sayang, aku tidak terlalu menikmati wilayah indoor di sini.


Settingan ala Las Vegaz


Ini lokasi outdoor tapi aku lupa bertema apa


Setting ala Inggris


Aku di Setting ala Inggris


Outdoor sebelum masuk ke area Inggris

Pintu masuk ke area Jerman

Akhirnya, kami berhasil keluar dari Museum Angkut setelah melewati beberapa settingan tema-tema indoor tadi. Di luar Museum Angkut, terdapat floating market yang menjual makanan, snack, dan oleh-oleh. Aku hanya melewati beberapa toko saja dan membeli pempek juga lidi-lidian sebagai snack. Kami pun memesan taksi untuk melanjutkan perjalanan ke BNS. Kenapa tidak pesan Uber atau Grab? Karena sepi banget, di aplikasi tidak ada tanda-tanda ada mobil di sekitar situ. Taksinya lumayan mahal karena ada tarif minimal sebesar Rp30.000,00. Jadi meskipun Museum Angkut dan BNS dekat, kami pun membayar cukup mahal.

Akhirnya sampai juga di BNS atau Batu Night Spectacular. BNS ini sejenis pasar malam, jadi ada berbagai wahana yang asik juga menantang adrenalin, ada juga taman lampion, food court, dan area yang menjual oleh-oleh khas Batu Malang. Untuk wahananya sebagian besar outdoor, ada juga rumah hantu, dll. yang indoor. Namanya Batu Night, karena BNS hanya buka di malam hari pk. 15.00 s.d. 23.00/24.00. Untuk tiket masuknya, Senin-Kamis sebesar IDR 30.000, sedangkan Jumat-Minggu IDR 40.000. Ini tiket masuk saja ya belum termasuk untuk main wahana-wahana. Harga untuk main per wahananya sekitar IDR 5.000 - IDR 40.000 kalau aku gak salah. Ada juga tiket terusan, jadi kamu bisa masuk dan main semua wahana. Harga tiket terusan sebesar IDR 100.000. Kalau kamu tujuan ke BNS untuk main better pilih tiket terusan ini. Pas ke sana, aku cuma pengen jalan-jalan saja jadi aku tidak beli tiket terusan.

Di BNS, aku ke taman lampion. Ini termasuk salah satu trademark dari BNS. Berbagai ornamen dan bentuk di taman ini dibuat dari lampion. Kalau untuk jalan-jalan dan foto-foto saja oke sih. Tapi bagi kamu yang tipe adventurous dan tidak suka foto, pasti akan bosan di taman lampion.



Di Taman Lampion, ada yang berbentuk kereta Cinderella


Masih di Taman Lampion, ada banyak lampu-lampunya juga, bagus untuk foto-foto


Ada lampion yang berbentuk ikan

Iseng main ontang anting di sini.

Selanjutnya aku mampir ke area tempat makanan. Untuk menuju area makan, kami harus melewati area yang menjual oleh-oleh. Tempat oleh-olehnya kurang lebih mirip dengan floating market di Museum Angkut. Tapi tidak floating tentunya. Area makannya mempunyai sistem kartu seperti food court di sebagian besar mal di Jakarta & Tangerang. Tapi honestly aku kurang suka semua rasa makanannya. Ini kali kedua aku ke BNS dan mencoba beberapa kios makanan, rasanya kurang cocok di lidah aku. Kayak yang masak tuh gak niat masak gitu. Yang spesial di area makanan ini adalah ada pertunjukan air mancur menari yang sudah dijadwalkan pada jam tertentu. Pertunjukannya lumayan apik dan cukup menarik.

Setelah menonton acara air mancur menari, jadwalku adalah kembali ke hotel untuk istirahat. Oh ya, di seberang BNS, ada cabang Rumah Sosis Bandung. Sayangnya aku pulang terlalu malam, jadi Rumah Sosisnya sudah tutup deh. Aku pulang naik Grab lagi ke Hotel Grage, tidak terlalu mahal seingatku, karena memang tidak begitu jauh dan tidak macet.

Daan, keesokan harinya, aku hanya istirahat di hotel, sembari bersiap-siap packing pulang.
Berakhir juga liburan aku di Malang, Bromo, dan Batu. Semoga cerita aku bisa menginspirasi kalian yang mau jalan-jalan ke daerah sana ya.

See you on another post :)

With love,

Novia
Haloo, apa kabarnya kalian? Semoga kalian selalu dalam keadaan baik ya.

Hari ini aku mau review salah satu serum bulu mata, yaitu Dermafleece Maxgrowth Premium. Serum ini produksi Jepang dan sudah pemain lama di pasaran. Berhubung sekarang treatment-treatment bulu mata ngehits lagi. Aku pun tertarik mencoba beberapa treatment tersebut, salah satunya dengan rutin menggunakan serum bulu mata.

Dermafleece Lash Builder

Sebelumnya aku dapet mini size Oilash dari teman aku yang bilang kalau Oilash-nya kebanyakan. Menurut dia Oilash ampuh banget buat bulu matanya. Aku pun tertarik coba, tapi ternyata Oilash ini tidak berpengaruh apa-apa di bulu mata aku.

Sekilas tentang Oilash, ini produk keluaran  dalam negeri, yaitu Pulchra Indonesia. Harganya terjangkau banget, cuma IDR 80.000 dan kita akan mendapatkan sebotol Oilash 20 ml. Wow!
Untuk penggunaannya disarankan sehari sekali sebelum tidur. Dalam 14 hari akan terlihat pertumbuhan bulu mata kamu.

Aku sudah menggunakan Oilash selama 14 hari dan inilah hasilnya. Tidak ada perbedaan yang signifikan. Tambah panjang sedikit terlihat sekitar 1 mm.

before after menggunakan Oilash selama 2 minggu

So aku penasaran dengan produk serum bulu mata yang lain. Aku coba cari di Guardian, dan dipertemukan dengan Dermafleece ini. Dermafleece merupakan produk dari Jepang. Harganya jauh lebih mahal dari Oilash. Botolnya sangat kecil, isinya cuma 8 ml dan harganya IDR 150.000.
Pada tutup Dermafleece terdapat spoolie. Jadi kamu bisa menggunakan spoolie tersebut untuk mengoleskan Dermafleece di akar bulu mata kamu. Berbeda dengan Oilash, disarankan untuk menggunakan Dermafleece 2x sehari.

Aku cukup rutin menggunakan serum ini. Mungkin dalam 3 minggu hanya missed 1-2x saja. Inilah hasilnya.

before after menggunakan Dermafleece

Menurutku, tidak ada pertumbuhan juga dengan serum bulu mata ini. Aku foto dari atas karena bulu mataku sedang di Lash Lift dan Tint, jadi kalau angle fotonya seperti yang pertama tidak terlalu terlihat panjang bulu matanya.

Secara tekstur, aku lebih suka tekstur Dermafleece dibandingkan dengan Oilash yang terlalu oily. Namun, ternyata tidak ada pengaruhnya juga di bulu mataku. Ada satu serum lagi yang ingin aku coba, yaitu serum bulu mata dari Sephora. Menurut salah satu klien aku, bulu mata ini manjur banget buat memanjangkan dan menebalkan bulu mata.

Aku sangat menyarankan penggunaan serum bulu mata untuk kamu yang bulu matanya tipis dan pendek, terutama untuk kamu yang jadi korban bulu mata rontok dari eyelash extension. Kalau bulu mata kamu panjang dan tebal, kamu tidak perlu lagi menggunakan bulu mata palsu ketika menggunakan full make up. Karena banyak sekali orang yang tidak nyaman menggunakan bulu mata palsu, jadi lebih baik memanjangkan dan menebalkan bulu mata alami kamu saja.

Adakah di antara kamu yang pernah mencoba Oilash ataupun Dermafleece? Jika ada, bisa berikan komentar kamu mengenai review kedua produk tersebut versi kamu. Kalau kamu ada yang mau mencoba kedua produk tersebut, it's okay banget. Karena hasil di aku bisa berbeda dengan hasil di kalian.

Sekian dulu blog aku hari ini. Semoga bisa memberikan sesuatu yang bermakna buat kalian. Sampai bertemu di blog aku selanjutnya :) Stay tune di Instagram aku ya, karena aku pasti update postingan blog terbaru aku di sana.
With love,
Novia