Halo semua, apa kabar?

Aku mau lanjutin blog aku yang sebelumnya On Vacation to Bromo Malang Part 1 . Setelah diantar oleh driver Jeep sampai ke KFC Malang lagi, aku gak langsung balik ke hotel. Tapi langsung chao ke daerah Batu. Gila, ya padahal uda bau keringat dan rambut penuh pasir. Touch up touch up dikit di WC dan aku langsung order Grabcar ke Museum Angkut.

BTW, pas aku di Malang, Uber mobil & Grab car lagi panas banget sama angkutan konvensional di sana. Jadi susah banget cari Uber dan Grab padahal udah lumayan lama lho, dua angkutan online ini masuk Malang. Giliran dapet pun, salah satu dari penumpang disuruh duduk di depan, nemenin driver. Biar gak keliatan kalau itu Uber atau Grab. Ada juga yang menyiasati dengan bertukar mobil dengan driver lain, karena katanya suka banyak tukang angkot atau ojek yang pura-pura pesan Uber atau Grab. Terus pas Uber atau Grab-nya dateng, drivernya digebukin rame-rame. Kasian banget, ya. Tapi, taktik bertukar mobil itu agak bikin aku insecure juga sih, karena pas pulang dari Batu menuju hotel, driver Uber yang aku dapatkan bilang kalau dia pake taktik itu. Plat dan jenis mobil di aplikasi aku sama mobil yang dateng kan beda dong. Takut aja disalahgunakan pihak lain, dsb. Semoga deh angkutan konvensional di Malang sekarang sudah bisa menerima keberadaan Grab dan Uber. Biar lebih nyaman, karena buat wisatawan kayak aku yang awam banget sama Malang, sangat mengandalkan Uber dan Grab buat ke mana-mana.

Lanjut, jadi aku naik Grab ke Museum Angkut, lumayan jauh, tapi gak jauh-jauh banget. Sekitar pk. 16.00 aku sudah sampai di Museum Angkut. Harga tiket masuk Museum Angkut Rp70.000,00 per orang dewasa, kalau bawa kamera profesional dikenakan charge Rp30.000,00. Awalnya kami mau curi-curi tidak bayar charge kamera profesional, dengan alasan tidak membawanya tapi pas di lokasi akan kami keluarkan. Tetapi melihat di ruangan pertama masuk penjagaannya cukup ketat, jadi akhirnya kami membayar charge kamera profesional. Aku sendiri tidak tahu mengenai hukuman apabila ada yang diam-diam mengeluarkan kamera profesional tanpa membayar charge di awal dan ketahuan petugas.

Di ruangan pertama setelah kami membayar tiket masuk, terdapat ruangan khusus mobil antik, kereta kuda antik, intinya mengenai sejarah angkutan darat di dunia. 

Bersama mobil mewah antik zaman dulu

Aku dan kereta kuda zaman dulu

Kereta kuda yang lain

Lalu naik ke lantai dua mulai terdapat miniatur angkutan laut dan udara.

Kapal legendaris, tapi aku lupa namanya

Titanic

Detilnya complicated banget ya

BTW sebenarnya Museum Angkut ini kayak labirin, jadi kami seolah-olah dibawa keliling oleh arsitektur ruangan tersebut. Selayaknya IKEA kalau kamu pernah ke sana.

Setelah melihat-lihat sejarah angkutan laut dan udara, kami masuk ke area outdoor yang di setting ala ala pecinan. Di sana ada beberapa arsitektur khas China. Tetap ada angkutannya juga, angkutan nelayan pada saat membawa banyak ikan, gerobak, dsb. 

Konsepnya china town gitu.

Aku dan ikan

Typical orang Indonesia banget ya, naik sepeda tapi bawaannya banyak banget.

Selanjutnya kami masuk ke ruangan indoor lagi, di situ dipamerkan lebih banyak angkutan barang besar seperti gerobak, truk, dsb. Ada juga beberapa motor, mobil antik, dan pernak-pernik mobil seperti ban di sana. Oh ya, sebelum aku lupa, sebagian besar angkutan yang dipamerkan di sana tidak boleh disentuh lho. Jadi buat kamu yang berkunjung ke sana, taati aturan ini ya, biar pengunjung selanjutnya masih bisa menikmati pemandangan angkutan yang bagus.

Sejenis Fiar gitu ya

Kumpulan Sepeda dan Ban

Bannya Gede Banget!

Truck On Frame

Selepas dari ruangan indoor ini, kami diarahkan ke lokasi outdoor yang disetting ala ala Broadway. Ada mini teater yang menayangkan episode film Charlie Caplin, ada beberapa lukisan dan miniatur artis Holywood yang legendaris seperti Audrey Hepburn, ada juga beberapa icon perfilman Holywood. Settingannya instagramable banget, pas kalo kamu suka foto-foto. Sepanjang jalan outdoor ini juga banyak toko yang menjual oleh-oleh, makanan, minuman, dan es krim.

Salah satu spot yang memajang foto Audrey Hepburn

Teater ala ala Broadway

Mungkin film yang ditayangkan kurang jelas, tetapi teater sedang menayangkan film Charlie Caplin

 Salah satu spot yang instagramable

Sebenarnya aku sangat membatasi waktu jalan-jalan di Museum Angkut, karena kami mau lanjut ke Batu Night Spectacular maksimal pk. 19.00. Jadi setelah melewati daerah Broadway tadi, kami agak buru-buru untuk segera menyelesaikan perjalanan di Museum Angkut. Tapi sayang banget sih kami buru-buru, karena setelah melewati daerah outdoor Broadway, kami mulai ke lokasi indoor lagi dan settingan indoor--nya pun bagus banget. Ada wilayah yang dibuat seperti di Inggris, Prancis, Belanda, dsb. Sayang, aku tidak terlalu menikmati wilayah indoor di sini.


Settingan ala Las Vegaz


Ini lokasi outdoor tapi aku lupa bertema apa


Setting ala Inggris


Aku di Setting ala Inggris


Outdoor sebelum masuk ke area Inggris

Pintu masuk ke area Jerman

Akhirnya, kami berhasil keluar dari Museum Angkut setelah melewati beberapa settingan tema-tema indoor tadi. Di luar Museum Angkut, terdapat floating market yang menjual makanan, snack, dan oleh-oleh. Aku hanya melewati beberapa toko saja dan membeli pempek juga lidi-lidian sebagai snack. Kami pun memesan taksi untuk melanjutkan perjalanan ke BNS. Kenapa tidak pesan Uber atau Grab? Karena sepi banget, di aplikasi tidak ada tanda-tanda ada mobil di sekitar situ. Taksinya lumayan mahal karena ada tarif minimal sebesar Rp30.000,00. Jadi meskipun Museum Angkut dan BNS dekat, kami pun membayar cukup mahal.

Akhirnya sampai juga di BNS atau Batu Night Spectacular. BNS ini sejenis pasar malam, jadi ada berbagai wahana yang asik juga menantang adrenalin, ada juga taman lampion, food court, dan area yang menjual oleh-oleh khas Batu Malang. Untuk wahananya sebagian besar outdoor, ada juga rumah hantu, dll. yang indoor. Namanya Batu Night, karena BNS hanya buka di malam hari pk. 15.00 s.d. 23.00/24.00. Untuk tiket masuknya, Senin-Kamis sebesar IDR 30.000, sedangkan Jumat-Minggu IDR 40.000. Ini tiket masuk saja ya belum termasuk untuk main wahana-wahana. Harga untuk main per wahananya sekitar IDR 5.000 - IDR 40.000 kalau aku gak salah. Ada juga tiket terusan, jadi kamu bisa masuk dan main semua wahana. Harga tiket terusan sebesar IDR 100.000. Kalau kamu tujuan ke BNS untuk main better pilih tiket terusan ini. Pas ke sana, aku cuma pengen jalan-jalan saja jadi aku tidak beli tiket terusan.

Di BNS, aku ke taman lampion. Ini termasuk salah satu trademark dari BNS. Berbagai ornamen dan bentuk di taman ini dibuat dari lampion. Kalau untuk jalan-jalan dan foto-foto saja oke sih. Tapi bagi kamu yang tipe adventurous dan tidak suka foto, pasti akan bosan di taman lampion.



Di Taman Lampion, ada yang berbentuk kereta Cinderella


Masih di Taman Lampion, ada banyak lampu-lampunya juga, bagus untuk foto-foto


Ada lampion yang berbentuk ikan

Iseng main ontang anting di sini.

Selanjutnya aku mampir ke area tempat makanan. Untuk menuju area makan, kami harus melewati area yang menjual oleh-oleh. Tempat oleh-olehnya kurang lebih mirip dengan floating market di Museum Angkut. Tapi tidak floating tentunya. Area makannya mempunyai sistem kartu seperti food court di sebagian besar mal di Jakarta & Tangerang. Tapi honestly aku kurang suka semua rasa makanannya. Ini kali kedua aku ke BNS dan mencoba beberapa kios makanan, rasanya kurang cocok di lidah aku. Kayak yang masak tuh gak niat masak gitu. Yang spesial di area makanan ini adalah ada pertunjukan air mancur menari yang sudah dijadwalkan pada jam tertentu. Pertunjukannya lumayan apik dan cukup menarik.

Setelah menonton acara air mancur menari, jadwalku adalah kembali ke hotel untuk istirahat. Oh ya, di seberang BNS, ada cabang Rumah Sosis Bandung. Sayangnya aku pulang terlalu malam, jadi Rumah Sosisnya sudah tutup deh. Aku pulang naik Grab lagi ke Hotel Grage, tidak terlalu mahal seingatku, karena memang tidak begitu jauh dan tidak macet.

Daan, keesokan harinya, aku hanya istirahat di hotel, sembari bersiap-siap packing pulang.
Berakhir juga liburan aku di Malang, Bromo, dan Batu. Semoga cerita aku bisa menginspirasi kalian yang mau jalan-jalan ke daerah sana ya.

See you on another post :)

With love,

Novia
Haloo, apa kabarnya kalian? Semoga kalian selalu dalam keadaan baik ya.

Hari ini aku mau review salah satu serum bulu mata, yaitu Dermafleece Maxgrowth Premium. Serum ini produksi Jepang dan sudah pemain lama di pasaran. Berhubung sekarang treatment-treatment bulu mata ngehits lagi. Aku pun tertarik mencoba beberapa treatment tersebut, salah satunya dengan rutin menggunakan serum bulu mata.

Dermafleece Lash Builder

Sebelumnya aku dapet mini size Oilash dari teman aku yang bilang kalau Oilash-nya kebanyakan. Menurut dia Oilash ampuh banget buat bulu matanya. Aku pun tertarik coba, tapi ternyata Oilash ini tidak berpengaruh apa-apa di bulu mata aku.

Sekilas tentang Oilash, ini produk keluaran  dalam negeri, yaitu Pulchra Indonesia. Harganya terjangkau banget, cuma IDR 80.000 dan kita akan mendapatkan sebotol Oilash 20 ml. Wow!
Untuk penggunaannya disarankan sehari sekali sebelum tidur. Dalam 14 hari akan terlihat pertumbuhan bulu mata kamu.

Aku sudah menggunakan Oilash selama 14 hari dan inilah hasilnya. Tidak ada perbedaan yang signifikan. Tambah panjang sedikit terlihat sekitar 1 mm.

before after menggunakan Oilash selama 2 minggu

So aku penasaran dengan produk serum bulu mata yang lain. Aku coba cari di Guardian, dan dipertemukan dengan Dermafleece ini. Dermafleece merupakan produk dari Jepang. Harganya jauh lebih mahal dari Oilash. Botolnya sangat kecil, isinya cuma 8 ml dan harganya IDR 150.000.
Pada tutup Dermafleece terdapat spoolie. Jadi kamu bisa menggunakan spoolie tersebut untuk mengoleskan Dermafleece di akar bulu mata kamu. Berbeda dengan Oilash, disarankan untuk menggunakan Dermafleece 2x sehari.

Aku cukup rutin menggunakan serum ini. Mungkin dalam 3 minggu hanya missed 1-2x saja. Inilah hasilnya.

before after menggunakan Dermafleece

Menurutku, tidak ada pertumbuhan juga dengan serum bulu mata ini. Aku foto dari atas karena bulu mataku sedang di Lash Lift dan Tint, jadi kalau angle fotonya seperti yang pertama tidak terlalu terlihat panjang bulu matanya.

Secara tekstur, aku lebih suka tekstur Dermafleece dibandingkan dengan Oilash yang terlalu oily. Namun, ternyata tidak ada pengaruhnya juga di bulu mataku. Ada satu serum lagi yang ingin aku coba, yaitu serum bulu mata dari Sephora. Menurut salah satu klien aku, bulu mata ini manjur banget buat memanjangkan dan menebalkan bulu mata.

Aku sangat menyarankan penggunaan serum bulu mata untuk kamu yang bulu matanya tipis dan pendek, terutama untuk kamu yang jadi korban bulu mata rontok dari eyelash extension. Kalau bulu mata kamu panjang dan tebal, kamu tidak perlu lagi menggunakan bulu mata palsu ketika menggunakan full make up. Karena banyak sekali orang yang tidak nyaman menggunakan bulu mata palsu, jadi lebih baik memanjangkan dan menebalkan bulu mata alami kamu saja.

Adakah di antara kamu yang pernah mencoba Oilash ataupun Dermafleece? Jika ada, bisa berikan komentar kamu mengenai review kedua produk tersebut versi kamu. Kalau kamu ada yang mau mencoba kedua produk tersebut, it's okay banget. Karena hasil di aku bisa berbeda dengan hasil di kalian.

Sekian dulu blog aku hari ini. Semoga bisa memberikan sesuatu yang bermakna buat kalian. Sampai bertemu di blog aku selanjutnya :) Stay tune di Instagram aku ya, karena aku pasti update postingan blog terbaru aku di sana.
With love,
Novia
Haloo semua, apa kabar?

Sudah ada yang coba produk baru keluaran BLP Beauty ini?

Eyeshadow Pen BLP Beauty

Sekilas mengenai BLP Beauty. Ini adalah brand Indonesia yang hits banget, karena salah satu owner-nya adalah beauty influencer dan make up artist, Lizzie Parra. Aku pribadi follow Instagramnya BLP Beauty, karena suka banget sama color brand-nya yang pastel dan soft banget. Produk pertama BLP adalah Lip Coat yang laris manis di pasaran. Aku pernah banget kesulitan cari Lip Coat BLP Beauty yang shade Butter Fudge buat kado ulang tahun sahabat aku. Sampai akhirnya ketemu di salah satu e-commerce dan harganya lebih mahal 30% dari harga aslinya di web BLP Beauty dan Sociolla.

Produk Eye Shadow Pen BLP Beauty release pada Juli lalu bertema #inyoureyes. Ada juga dual eye definer, dengan warna hitam dan silver di satu pensil. Eye Shadow pen-nya ada beberapa warna, pilihanku jatuh pada warna Creme Gold.

Pas dateng paketnya, happy banget. Kotaknya cukup besar, aku pikir akan ada card atau barang ala ala pendamping si eyeshadow pen-nya. Tapi ternyata pas dibuka kotak gedenya cuma berisi satu eyeshadow pen aja yang dibungkus dengan bubble wrap. Menurutku kalau memang isinya cuma kecil gitu aja, kotaknya dibuat kecil juga deh. Kalau memang mau tetap kasih kotak besar, bisa dikasih card atau barang ala ala lain biar terkesan penuh dan lebih bagus.

Eyeshadow pen BLP dibungkus sejenis kardus sangat tipis yang berwarna tosca. Eyeshadow pen-nya sendiri berbahan plastik. Di ujung bawahnya ada pemulas eye shadow yang berbentuk seperti crayon. Di bagian ujung atas eyeshadow pen, terdapat serutan untuk menyerut eye shadow pen.

Serutan dari eyeshadow pen BLP Beauty

Ini swatch eyeshadow pen BLP creme gold di tanganku.

Swatch BLP Beauty Eyeshadow di tanganku

Yang bikin amazing adalah ketika aku usap swatch eyeshadow pen-nya di tangan, gak nyebar sama sekali lho warnanya. Hanya saja sebagian glitternya menyebar dan itu wajar banget sih menurutku. Aku langsung antusias banget, karena aku punya masalah di mana eyelidku berminyak banget.

Aku uda usap usap tapi gak ilang lho swatch-nya.

Ini dia warna warna creme gold eyeshadow pen BLP di eyelid aku.

Before

After

Di eyelidku yang memang tidak sekering tanganku, eyeshadow pen BLP ini mudah banget diblend. Ketahanannya pun lumayan, 3-5 jam minyak di eyelid-ku belum mengganggu penampakan eyeshadow BLP ini. Di foto after, itu fotoku setelah 4 jam menggunakan eyeshadow pen BLP Beauty lho. Penggunaan eye primer akan membuat BLP eyeshadow pen ini makin tahan lama di eyelid-ku. Dan, yang paling favorit adalah kepraktisannya! Maksimal 30 detik, eyelidku uda oke banget dengan eyeshadow pen BLP ini. Karena basisnya adalah eyeshadow cream, jadi tidak perlu khawatir dengan fall out. Aku selalu bawa eyeshadow pen ini di tasku untuk touch up atau kalau perlu dandan cepat pas pergi dengan bare face.

Kesimpulannya adalah

Kelebihan: praktis, waterproof, pigmentation-nya oke, no fall out karena basic-nya eyeshadow cream, harganya juga cukup affordable dengan harga IDR 129.000 dan isinya banyak.
Kekurangan: hmm apa ya, kurang smudgeproof aja sih, dan soal packaging sih seperti yang aku ungkapkan di atas better kotaknya kalo besar, ya dibuat seolah-olah isinya penuh, atau karena memang produknya kecil, lebih baik kotaknya kecil juga aja.

Repurchased? Yes, suka banget sama eyeshadow pen ini. Aku mau beli yang charcoal black lagi kayaknya.

Thanks for reading my blog, guys. Sorry banget kalau aku belum bisa konsisten untuk buat blog setiap minggu satu. Tetapi aku akan coba untuk lebih konsisten lagi untuk update blog aku. Stay tune ya di Instagram aku @bernadettanovia , karena aku pasti akan update blog terbaru aku di sana :) See you on my next post, everyone.

With love,

Novia
Haloo semua. Gimana kabarnya?

Hari ini aku akan kembali review soal make up dan kali ini aku akan review salah satu produk dari Flormar. Sekilas mengenai Flormar, make up ini berasal dari Milan, salah satu kota fashion di dunia dan sudah ada sejak 1970. Pemain lama banget ya di make up dan brand ini mulai masuk ke Indonesia pada Oktober 2016 lalu. Sejak itu Flormar mulai melebarkan sayap, membuka beberapa outlet di kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Tangerang, dan Surabaya. Brand make up ini juga rajin mengadakan beauty class oleh beauty influencer seperti Janine Intasari, Veroonica Ong, dll. 

Oh, ya satu lagi, Flormar terkenal dengan harganya yang terjangkau lho. Dengan budget IDR 500.000, kamu bisa membawa pulang sekitar 3 produk Flormar, bahkan lebih. Dan beberapa produk Flormar menjadi favorit salah satu beauty influencer, Suhay Salim. So worth to try, right?

Kita mulai lihat dari packaging-nya. 

Packaging Flormar Mat Touch Foundation

Tidak ada kotak, jadi langsung botol foundie-nya aja. Cara mengeluarkan foundie-nya adalah di-pump. Sekali pump keluarnya cukup banyak. Kalo aku sendiri untuk full face biasanya pakai 2x pump.

Klaim dari foundie ini kalo dari web Flormar adalah
"Creating a velvety and rich texture, it blends with the skin perfectly, gives a mattes and smooth texture, helps skin look perfect and mat all day."

Menjanjikan hasil yang matte, di packaging juga tertulis kalau ada vitamin E nya. Tapi BA di counter bilang kalau foundie ini tidak waterproof. Aku juga beli beberapa produk face dan eye make up Flormar yang lain, dan menurut BA semuanya tidak waterproof.

Ini penampakannya di wajahku.

Before using Flormar Mat Touch Foundation

After using Flormar Mat Touch Foundation

Tekstur foundie-nya creamy cenderung cair jadi tidak terlalu kental. Hasilnya di wajah aku yang kombinasi, tidak terlalu matte, even setelah 1-2 menit masih ada rasa lengket sedikit di wajahku. Tetapi tidak glowing juga. Untuk coverage-nya medium (dengan takaran 2 pump untuk seluruh wajahku), tapi buildable ke full coverage. Di wajahku foundie ini juga ringan, cukup oke untuk digunakan sehari-hari.

Tapi, aku kurang rekomendasiin kalian untuk pakai foundie ini di luar ruangan. Karena di aku, setelah pemakaian foundie ini di luar ruangan selama 4 jam, wajahku jadi oily banget juga cakey.
Aku pernah coba juga untuk pemakaian di dalam ruangan ac. Minyak-minyak di wajah akan muncul setelah 6 jam. Setelah 8 jam akan cakey juga. Even aku uda pakai primer dan loose powder, ketahanannya pun sama saja. Hanya saja lebih matte finished, dan aku sangat rekomendasi penggunaan primer dan loose powder kalau kamu mau coba foundie ini.

Yang aku suka dari foundie ini adalah ringan dan affordable banget. Tidak menimbulkan iritasi atau breakout juga di kulit. Aku akan pakai foundie ini lagi of course, tapi lebih buat acara-acara indoor yang tidak makan waktu lama, misal kondangan, dsb. Tentunya dengan menggunakan primer juga loose powder.

Simpulannya,
Kelebihan: affordable, ringan di wajah, no breakout, buildable ke full coverage, cocok untuk kulit kering (maybe).
Kekurangan : cakey kalau sudah berjam-jam, semi matte, tidak waterproof, kurang cocok untuk kulit berminyak.

Kalau dibandingkan dengan klaimnya produk ini, agak kurang sesuai ya dengan kondisi wajahku yang bertipe kombinasi. 

Apakah kalian pernah mencoba foundie ini juga? Jika iya, share yuk di komentar. Karena hasil penggunaan make up dan skincare di wajah setiap orang akan berbeda-beda.

Anw, thanks for reading my blog, guys. Next blog, aku akan review salah satu produk baru dari brand  beauty influencer-nya Indonesia, lho! Penasaran? Stay tune ya di Instagram aku @bernadettanovia , karena aku pasti akan update di sana :) See you on my next post, everyone.

With love,

Novia
Halo semua, gimana kabarnya?

Kehabisan ide untuk jalan-jalan? Kali ini aku akan share cerita liburan ku bersama tour Bromo. Quite affordable menurut aku untuk liburan yang bisa dinikmati banget. Kebetulan aku ambil paket trip di Fun Adventure dengan harga Rp300.000,00 sudah include Jeep ke beberapa spot wisata dan snacks. Why do we need Jeep? Karena perjalanan menuju beberapa spot wisata di Bromo menanjak juga ada yang berpasir. So we do need Jeep to complete our trip in Bromo.

Aku menginap di Hotel Grage Malang, lokasinya di daerah Kabupaten Malang, agak jauh dari Kota Malang. Tetapi aku akui hotel ini termasuk hotel strategis di Malang karena dekat dengan beberapa tempat wisata seperti Hawaii Waterpark, juga termasuk hotel murah di Malang karena harganya terjangkau sekitar Rp300.000,00 per malamnya. Namun, aku kurang suka dengan beberapa service hotel ini, yaitu seprainya kotor, ada bercak cokelat-cokelat. Di hari kedua aku pikir akan diganti, tapi teryata tidak. Cuma diberesin aja bed-nya. Terus, di kamar hotelku pintunya seret, jadi agak susah untuk buka tutup pintunya. Untuk makanan, selama aku menginap di hotel ini, aku mengandalkan makanan dari GoFood karena aku tidak mengambil paket menginap dengan breakfast. Mengingat aku akan menghabiskan satu pagi di Bromo, jadi aku memutuskan tidak mengambil breakfast-nya.

Aku memulai perjalanan ke Bromo pada pukul 12.00 malam. Kami bertemu dengan pihak tur di KFC Alun-alun kota Malang. Tujuan pertama kami adalah ke Pananjakan 1, spot melihat sunrise Bromo. Perjalanan dari KFC Malang menuju kawasan Bromo sekitar 3 jam. Sesampainya di sana masih sekitar pk. 03.00 dan hawanya dingin banget di sini, aku pake jaket tebal dan masi berasa kedinginan banget. Aku ke sana di bulan Maret dan weekdays tapi rame lho, yang dateng ke sana. Gak cuma turis lokal doang, ada juga beberapa turis luar yang datang dan hendak melihat sunrise di Bromo lho.

Daan akhirnya sunrise Bromo yang ditunggu datang juga. Tapi sayangnya mataharinya ngumpet nih. Jadi cuma kayak gini pemandangannya. Not bad sih, karena ada Gunung Bromo-nya jadi dramatis gitu. Tapi aku yakin kalau awannya geser sedikit dan mataharinya kelihatan pasti lebih cantik.

Ini sunrise Bromo pas masih gelap 


Ini udah lumayan terang, tapi mataharinya ngumpet :(

Dingin banget, aku pake kupluk, jaket tebal, legging panjang, dan sepatu. Perlu banget bawa sarung tangan.
BTW ini masih di Pananjakan 1, spot melihat sunrise.

Lokasinya masih di area Pananjakan 1

Setelah waktu sunrise Bromo sudah berlalu, aku kembali ke jeep dan memulai perjalanan ke Love Hill. Nah ini sudah di wilayah Bromo banget, banyak pasir dan stepa. Banyak bukit dan tempatnya ala ala banget, pas buat kamu yang hobi foto-foto.

Love Hill, banyak pasir dan bukit.

Aku dan Jeep

Puas foto-foto di Love Hill, habis itu kita lanjut ke Gunung Bromo-nya. Jadi di wilayah Bromo ini banyak bukit-bukit dan gunung yang sudah tidak aktif. Hanya Gunung Bromo yang masih aktif dan membuat gunung Bromo terlihat berwarna hitam keabuan sendiri. Sedangkan bukit dan gunung lain yang sudah tidak aktif, sudah ditumbuhi rumput-rumput hijau. Kita cuma diantar oleh Jeep di kaki gunungnya aja. Bahkan gak di kaki gunung persis. Lumayan jauh ke kaki gunungnya. Di situ banyak kuda, yang ditawarkan sebagai transportasi menuju kawah Bromo. Sebenarnya bisa aja sih jalan ke kawah Bromo, tapi jauh banget. Aku pribadi memilih naik kuda, untungnya driver aku mau nego-in ke tukang kudanya, jadi harganya gak mahal-mahal banget, sekitar Rp120.000,00 an, meskipun emang dapet kudanya yang kecil sih. Ada juga kuda yang gede gagah gagah gitu deh, tapi harganya bisa dua kali lipat kudaku.

Kudanya kecil banget, tapi murah, ehe

Pas naik kuda, kita gak dilepas sama kudanya doang kok. Empunya kuda juga nemenin sampai kawah dan balik lagi buat nuntun kudanya. Jalan kaki si bapak, hebat banget deh emang karena jauh banget. Sebelum sampai ke kaki gunung, kita melewati hamparan pasir yang luas, ada Pura Luhur Poten di hamparan pasir tersebut. Lokasinya dekat dengan kaki gunung Bromo. Menurut informasi yang kudapat, Pura ini digunakan oleh masyarakat Tengger untuk melakukan ibadah keagamaan.

Daan akhirnya waktunya mendaki Gunung Bromo bersama kuda dan empunya. Medannya berbatu dan lumayan tinggi juga lho. Ada juga beberapa wisatawan yang jalan kaki menuju kawah. Whew, salut sama mereka. Tapi ternyata, kita gak dianter sampe kawah. Kita dianter sampe tangga yang menuju ke kawah. Yes, ada tangga yang terbuat dari batu, yang menuntun kita ke kawah Bromo. Lumayan tinggi juga naiknya dan harus hati-hati karena tangganya kecil-kecil tapi banyak.

 Tangganya banyak dan kecil-kecil.
Tinggi kan? Istirahat sambil foto-foto.

Sampai juga di kawah Bromo, yang cukup ramai dan harus ekstra hati-hati di sana. Kita bisa melihat gejolak lava-nya, bau belerang, juga asap. Sedihnya adalah banyak banget sampah di sana. Ada juga tulisan-tulisan vandalism di sana. Hmm, please deh, jangan sesekalinya nodain tempat wisata, karena itu citra Indonesia di mata wisatawan internasional. Merusak keindahan banget.
 OOTD ala ala di salah satu spot Bromo

 Masih foto- foto di area Bromo
Nah, ini di kawah Gunung Bromo

Setelah puas berfoto-foto di kawah Bromo, aku turun lagi melewati tangga kecil-kecil yang banyak itu. Lalu turun dengan kuda lagi, diantar ke area parkir Jeep. Ada yang jualan bakso Malang, karena memang baru makan pop mie aja pas pagi nunggu sunrise, aku pun membeli bakso Malang. Lumayan murah, cuma Rp15.000,00 di tempat wisata, rasanya juga enak (mungkin karena tercampur sedikit pasir?). Oh, ya sehabis ini ada 2 spot wisata lagi yang dikunjungi dan 2 spot wisata tersebut tidak ada MCK-nya. Jadi better, kamu buang air dulu di kawasan Bromo ini sebelum lanjut ke Pasir Berbisik dan Bukit Teletubies.

Menuju tempat jeep, pasir semua!

Lanjut ke Pasir Berbisik. Sebenarnya lokasinya cuma hamparan pasir abu-abu yang luas dan berangin. Menjadi spot wisata, karena lokasi ini pernah digunakan untuk shooting film Pasir Berbisik (2001) yang dibintangi Dian Sastro. Film ini cukup terkenal dan meraih berbagai penghargaan juga. Berikut adalah foto-fotoku di Pasir Berbisik.

Pemandangannya bukit dan pasir 

Pasir semua.

Pasir Berbisik

Nah, ini waktunya kita ke spot terakhir ke Bukit Teletubies. Dinamai Bukit Teletubies karena banyak bukitnya, kayak di film Teletubies zaman dulu. Di sini lebih banyak rumputnya dibanding pasir. Tempatnya masih ala ala juga, bisa banget buat foto-foto.

Banyak ilalang tinggi di Bukit Teletubies

Masih ada pasirnya juga, tapi kebanyakan rumput. Oke buat foto-foto.

Udah ada jalan aspalnya lhoo.

Foto di antara rumput di Bukit Teletubies

Daan, berakhir lah wisata Bromo ini. Kami diantar kembali naik Jeep ke Kota Malang.

Pesan dan kesannya Bromo itu cantik banget. Buat kalian orang Indonesia yang sudah sering keluar negeri, tapi belum pernah ke Bromo, please sempatkan ke sini. Harganya juga affordable pas juga buat mahasiswa yang mau liburan bareng teman-temannya. Yang pasti buat orang Indonesia wajib banget sesekali datang ke Bromo. 

Seusai wisata Bromo ini, aku lanjut ke Museum Angkut dan Batu Night Spectacular lho. Aku akan lanjutkan ceritanya di On Vacation to Bromo Malang Part 2.

Thank your for reading my blog, guys. Ada yang pernah ke Bromo dan punya kesan pesan lain juga? Yuk sharing di komentar :)

See you on my next post.

With love,

Novia.

All photos are shot by Yedija Luhur .